Seseorang pernah berkata didekat ku “Hati-hati ya, kamu kan suka membaca buku”. Sejujurnya, ini pernyataan paling ekstrem yang pernah kutemui tujuh bulan terakhir. Bagaimana mungkin aku harus begitu waspada hanya karena kesukaan yang digeluti. Konteks yang harus ku hati-hati tak lebih hanya berkisar ketakutan akan perbedaan aliran dalam keagamaan, katanya. Sedikit membingungkan seketika. Rasanya aku ingin berhenti saat itu juga membagikan aktivitas membaca ku lewat media sosial. Kebingunganku mulai menjadi-jadi. Pertanyaan benar-salah juga semakin menghantuiku pasca kejadian itu. Aku terus memahami, apa kegiatanku merupakan bentuk kesalahan atau persepsi tersebut yang terlalu kolot. Jika konteksnya hanya karena sebuah aliran keagamaan, sungguh aku sangat menyayangkan. Apalagi, bagiku agama dan perintilannya adalah sebuah hal yang sangat privat. Maksudku begini. tidak mungkin kan seseorang harus mendapat cap tidak beriman atau tidak ‘religius’ hanya karena dia tidak pernah terlihat memb...
Menulis untuk belajar, berpikir dan menganalisa.