Langsung ke konten utama

Bukan Sajak, Bukan Opini, Ini Curahan Hati





Seseorang pernah berkata didekat ku “Hati-hati ya, kamu kan suka membaca buku”. Sejujurnya, ini pernyataan paling ekstrem yang pernah kutemui tujuh bulan terakhir. Bagaimana mungkin aku harus begitu waspada hanya karena kesukaan yang digeluti. Konteks yang harus ku hati-hati tak lebih hanya berkisar ketakutan akan perbedaan aliran dalam keagamaan, katanya. Sedikit membingungkan seketika. Rasanya aku ingin berhenti saat itu juga membagikan aktivitas membaca ku lewat media sosial.

Kebingunganku mulai menjadi-jadi. Pertanyaan benar-salah juga semakin menghantuiku pasca kejadian itu. Aku terus memahami, apa kegiatanku merupakan bentuk kesalahan atau persepsi tersebut yang terlalu kolot. Jika konteksnya hanya karena sebuah aliran keagamaan, sungguh aku sangat menyayangkan. Apalagi, bagiku agama dan perintilannya adalah sebuah hal yang sangat privat. Maksudku begini. tidak mungkin kan seseorang harus mendapat cap tidak beriman atau tidak ‘religius’ hanya karena dia tidak pernah terlihat membagikan postingan sosial media mengenai ceramah ustad, hadits ataupun hal-hal yang berbau agama lainnya. Bukan begitu kan, konsep beragama?

Pernyataan lain yang melipir ditelingaku adalah mengenai bacaan-bacaan yang kupilih. Ya, aku tidak memilih secara terencana juga si kawan. Mungkin begini, aku lebih memilih untuk membaca apapun yang ku temui. Membaca hal apapun yang ingin kubaca tanpa mempertimbangkan siapa dan apa. Dengan membaca banyak hal, aku rasa itulah yang menjadikanku lebih memberi berbagai sudut pandang, pikirku. Awalnya, sedikit arogan ya. Sebelum tujuh bulan berlalu, bahwa rasanya aku tidak ingin membaca buku jika itu bukan karya penulis terkenal macam Pak Cik Andrea Hirata ataupun sekelas Tere Liye. Arogan kan?

Maka dari itu aku ingin mengubah dan memulai semuanya. Ini akan sama konsepnya dengan seseorang yang tidak akan memilih bacaan yang ringan hanya karena dia takut dianggap tidak keren membaca bacaan super berat. Yang harus kita pahami bahwa semua proses harus dilalui. Tidak ada yang kalah start ataupun kalah menemui cahaya dalam kegelapan. Hidup bukan sekedar perlombaan antara kalah dan menang ya, Kawan.

Tidak perlu kiranya ku jabarkan lebih banyak lagi. Karena sejauh telinga ini terpampang, hanya pernyataan dengan hamburan diksi negatif yang ia dengarkan. Kasihan telingaku. Ya, biar seimbang mari kuceritakan pengalamanku yang senang-senang juga. Mungkin saja kita bisa beriringan membangun dan kalian juga dapat menemukan cahaya positif didalamnya. Maksudku bukan untuk menggurui. Tak lebih ini semua hanya sekedar berbagi.

Jika boleh kuberi nama, aku ingin menamai tahun ini sebagai tahunnya ’meloncat dari zona nyaman’. Sebanyak mungkin kulakukan itu untuk menemui banyak hal lagi. Kegiatan membaca memang telah kulakukan sejak tujuh tahun lalu. Hanya saja mungkin tidak masif seperti diriku sekarang. Tahun ini begitu banyak hal yang tidak kusangka datangnya. Ya walaupun ku tahu, hidup merupakan ruang istimewa yang penuh kemisteriusan.

Diawal tahun, aku berkata pada diriku sendiri begini kira-kira “Katanya kamu ingin membaca sebanyak mungkin. Tapi nyatanya tidak pernah ada yang konkrit kamu lakukan”. Aku menggerutu sendiri begitu, hampir di beberapa waktu. Melihat banyak orang dengan semangat yang tinggi dalam membaca, membuatku ciut tidak ada apa-apanya. Kalau tidak salah ingat, yang kulakukan hanya satu, saat itu. Membangun hal kecil yang hampir setiap hari ku lakukan. Misal membuka media sosial Instagram.

Persepsiku adalah bagaimana caranya agar ketika aku ingin bersantai membuka Instagram aku bisa teracuni dengan baik lewat buku-buku yang ketemui. Mudah saja kawan, kalian hanya perlu mengikuti orang-orang yang membawamu kepada buku. Membangun lingkaran pertemanan didunia maya dengan para bookstagrammer, bookdragon atau yang lainnya. Aku lebih yakin, dengan cara yang sesederhana itu dan seiring berjalannya waktu racun-racun itu pasti akan masuk kedalam diri kalian. Biar saja, sesekali dirimu tidak hanya diracun oleh pertemanan yang toksik ya, kan?

Niat hati dari semua curhat tidak jelas ini, aku hanya ingin menyajikan bahwa setidaknya aku tak pernah ragu lagi untuk menuliskan pada kolom hobi dengan kata membaca. Maksudku bolehlah aku memenuhi nuraniku bahwa aku tidak lagi melakukan pembohongan publik. Hiks hiks.

Oh ya, mungkin kali ini juga tidak lebih dari keinginan self reward pasca mimpi kecil yang dapat terwujud walaupun dimulai dipertengahan tahun. Dua puluh satu buku untuk 2021. Sedikit terencana dengan menyusun To Be Read (TBR) diawal akan tetapi berujung pada ketidakterlaksanaan. Ya, kupikir tidak apalah ini semua bentuk proses ku yang mungkin membagikannya kepada kalian, agak sedikit narsisme ya. Lebih jelasnya, dua puluh satu buku merupakan daftar yang cukup beragam. Tahun ini juga masih lebih banyak ku baca kumpulan puisi. Tidak ada salahnya, mungkin keinginanku adalah diperbaiki tahun depan. Tahun ini pula, satu buku telah membawaku kepada kebaikan—keluar dari zona nyaman, You Do You (Fellexandro Ruby) . Dan satu buku lagi kubaca ulang ditahun ini. Maksudku ingin memvalidasi diri apakah cukup pernyataanku bahwa buku ini sangat banyak mempengaruhi hidupku, Laskar Pelangi (Andrea Hirata).

Aku paham kawan, esensi dan persepsi kalian akan membaca itu macam-macam. Tidak ada tuntutan itu semua harus sama dengan narasi panjang kali lebar tulisan ini. Sekali lagi, semua tidak lebih dari sekedar ingin berbagi. Kalian bisa menemukan sendiri lewat proses yang kalian inginkan. Temukan sebanyak mungkin jiwa kalian dalam membaca. Tidak perlulah kita mendengarkan diksi-diksi yang melipir ke telinga. Walaupun tidak dapat dipungkiri itu akan tetap mampir dan kita pikir. Aku tidak bercanda akan kebenaran ‘pembaca support pembaca’. Aku yakin kita semua adalah pembaca walaupun harus ada kata ‘walau’ mengikutinya. Yang tampak ataupun bukan, kita dasarnya adalah pembaca.

Segitu saja kawan curhatan dengan dalih curhatan ini. Mungkin cukup banyak jika semuanya kuceritakan disini. Selebihnya tentang buku kalian bisa menjumpaiku didunia maya atau nyata. Sekedar berbagi cerita untuk membangun sama-sama. Kutunggu cerita kalian disini, di lapak ini. Salam!


Photo by Fatmawati

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kemelekatan dan Bagaimana Ia Berkelindan

Kalau kamu pendengar musik indie, coba ingat-ingat salah satu rilisan lagu dengan judul yang amat panjang milik Banda Neira. Kiranya Banda Neira pernah melantunkan apa di telingamu? Kalau tidak berhasil mengingatnya, maka saya sudi saja menulis sebagai pembuka tulisan ini. Banda Neira hanya bilang begini: Yang, yang patah tumbuh, yang hilang berganti Yang hancur lebur akan terobati Yang sia-sia akan jadi makna Yang terus berulang suatu saat henti Yang pernah jatuh ‘kan berdiri lagi Kenyataan alamiah yang tidak terelakkan soal datang dan perginya seseorang memang harus disadari dengan penuh. Bijaknya, Ia merupakan siklus kehidupan yang menggambarkan betapa dinamisnya manusia beserta pengalamannya. Sebagai rangsangan atas kesadaran penuh tersebut, kita tidak mungkin menjadi naif dan membiarkan mengambang seolah nurani tidak boleh ikut andil. Beberapa waktu terakhir saya seringkali bertemu persimpangan ketika menyoal relasi dengan beberapa orang. Baik relasi pertemanan, keluarga hingga as...

Merangkai Kembali yang Putus

Setelah sekian purnama tidak merangkai jejak pada platform ini, maka aku kembali dengan wajah baru yang mungkin nampak segar. Berlatih kebugaran mental yang telah lama diobrak-abrik rangkaian rutinitas. Benar juga, ya. Kata Pak Cik Andrea Hirata, rutinitas dapat membunuh kreativitas. Kawan, mungkin catatan kali ini hanya akan berisi curhatan  narsisme manusia yang sedang mengalami sempoyongan akan hidup. Manusia yang baru saja keluar dari goa primitif dan berkelit dengan dunia luar yang bebas. Dan ya, aku akan membayar lunas karena sejak beberapa waktu terakhir situs web pribadi ini mungkin cukup dianaktirikan. Sebenarnya, banyak yang ingin aku ceritakan. Tapi untuk menghindari catatan yang terlalu panjang, maka nantinya jika sempat akan aku pecah menjadi beberapa. Doakan aku sempat dan menyempatkan diri. Jika pada akhirnya tidak sempat, maka aku tidak terlalu berutang janji. Karena aku memang tidak sedang mengucap janji ataupun melingkarkan jari kelingking pada jari kalian satu pe...

Yang Beragam: Kita Sebut Manusia

Mengenal manusia satu dengan yang lain memang tidak pernah cukup waktu kita. Tatanan yang kompleks dan dinamis. Sikap dan sifat yang tidak bisa hanya dipandang dari satu sisi. Terkadang... bahkan kita yang menjadi meledak seketika saat menghadapi semua itu. Kehidupan sehari-hari terus memunculkan bentuk sikap dan sifat itu sendiri. Lebih-lebih mengenai keburukan yang akan terus menjadi sorotan. Beruntung, masyarakat menjadi pengendali alamiah sebab kodrat. Mari menganalisa! Pertama, masyarakat adalah komunitas yang terdiri dari berbagai satuan individu (manusia) dan terikat sistem adat maupun tradisi. Manjadi pilihan bagi setiap individu dalam lingkaran sistem untuk mendominasi buruk atau baik. Sebagai pengalaman pribadi, masyarakat tidak bisa kita hadapi dengan sifat apatis. Sifat buruk yang terhujat dan tak terpelihara. Bisa jadi tak bertahan lama jika tampak sifat tersebut. Kedua, pernah dengar ungkapan seperti ini?—keberhasilan teori belum tentu menjamin mutu kegiatan paling nyata ...