Mengenal manusia satu dengan yang lain memang tidak pernah cukup waktu kita. Tatanan yang kompleks dan dinamis. Sikap dan sifat yang tidak bisa hanya dipandang dari satu sisi. Terkadang... bahkan kita yang menjadi meledak seketika saat menghadapi semua itu. Kehidupan sehari-hari terus memunculkan bentuk sikap dan sifat itu sendiri. Lebih-lebih mengenai keburukan yang akan terus menjadi sorotan. Beruntung, masyarakat menjadi pengendali alamiah sebab kodrat.
Mari menganalisa! Pertama, masyarakat
adalah komunitas yang terdiri dari berbagai satuan individu (manusia) dan
terikat sistem adat maupun tradisi. Manjadi pilihan bagi setiap individu dalam
lingkaran sistem untuk mendominasi buruk atau baik. Sebagai pengalaman pribadi,
masyarakat tidak bisa kita hadapi dengan sifat apatis. Sifat buruk yang
terhujat dan tak terpelihara. Bisa jadi tak bertahan lama jika tampak sifat
tersebut.
Kedua, pernah dengar ungkapan seperti
ini?—keberhasilan teori belum tentu menjamin mutu kegiatan paling nyata bernama
‘praktik’. Ungkapan yang dapat sama-sama kita benarkan. Logisnya, jika dalam
komunitas kecil misal masyarakat sekolah kita terus menteorikan apatis sebagai
langkah benar tanpa melalui diskusi panjang. Mungkin masyarakat yang lebih
besar sistemnya tak dapat memberikan tangan terbuka terhadap individu yang
banyak kita bahas diatas. Ini tak perlu diselaraskan dengan toleransi jika
mencakup kepentingan sistem yang lebih besar—toleransi juga punya pilah-pilih.
Ketiga, dan selalu menjalankan praktik belum tentu mendapat sepenuhnya esensi teori. Praktik banyak hal dalam periode dahulu juga tidak cukup akurat menjamin pemahaman teori sampai pada masa yang dijalani saat ini, begitu di masa depan. Mengapa demikian? Apakah faktor lain juga ikut campur, mengaduk serta mengombang-ambing kehidupan.

ukiran bahasanya dalam sekali kak, mantap👍👍
BalasHapushiks, masih terus belajar dek. terimakasih sudah membaca:))
HapusSaya tunggu nih, kelanjutan tulisan ini dari pena interferensi (FA) :))
BalasHapusSetuju sama analisanya, semangat terus pokonya
BalasHapus