Kalau kamu pendengar musik indie, coba ingat-ingat salah satu rilisan lagu dengan judul yang amat panjang milik Banda Neira. Kiranya Banda Neira pernah melantunkan apa di telingamu? Kalau tidak berhasil mengingatnya, maka saya sudi saja menulis sebagai pembuka tulisan ini. Banda Neira hanya bilang begini:
Yang, yang patah tumbuh, yang hilang berganti
Yang hancur lebur akan terobati
Yang sia-sia akan jadi makna
Yang terus berulang suatu saat henti
Yang pernah jatuh ‘kan berdiri lagi
Kenyataan alamiah yang tidak terelakkan soal datang dan perginya seseorang memang harus disadari dengan penuh. Bijaknya, Ia merupakan siklus kehidupan yang menggambarkan betapa dinamisnya manusia beserta pengalamannya. Sebagai rangsangan atas kesadaran penuh tersebut, kita tidak mungkin menjadi naif dan membiarkan mengambang seolah nurani tidak boleh ikut andil.
Beberapa waktu terakhir saya seringkali bertemu persimpangan ketika menyoal relasi dengan beberapa orang. Baik relasi pertemanan, keluarga hingga asmara. Menurutku, kehadiran dan kepergian punya kaitan yang erat dengan orientasi relasi yang akan kita bangun dengan orang-orang di sekitar. Mari membahas satu persatu soal ketiga relasi yang telah disebut tadi. Kalau tulisan ini harus berakhir, berarti Ia hanya mampu membahas dua diantara ketiganya.
Maret lalu adalah perjalanan jauh terakhir sebelum mendapat tanggungjawab struktural pada sebuah organisasi. Perjalanan pulang yang cukup panjang karena harus melewati tol Bandung-Jakarta dengan mobil travel yang disediakan oleh penyelenggara acara yang sedang saya ikuti. Bertolak siang hari, saya mendapat bagian mobil yang hanya diisi tak kurang dari 7 orang. Perjalanan baru dimulai sekitar 10 menit, niatnya hendak menggunakan earphone dan menyetel musik sepanjang perjalanan pulang. Belum sempat melakukannya, saya tak sengaja mendengarkan diskusi seseorang yang duduk di hadapan. Kalau tidak salah, untuk kedua kalinya saya mendengarkan kosakata “kemelekatan” dari orang tersebut. Rupanya seorang teman dihadapan itu sedang asik berdiskusi dengan teman di sebelahnya.
Awalnya, istilah tersebut saat itu hanya serupa angin lalu. Walaupun pada akhirnya, Ia berputar di kepala karena lamat-lamat dipikirkan. Kemelekatan dengan mantap coba saya tampik. Dengan jumawa saya bilang dan berbisik pada diri sendiri: Relasiku dan orang-orang di sekitar baik-baik saja, sehat, dan tidak saling bergantung. Itu kan relasi yang jauh dari konsep kemelekatan.
Belakangan, saya baru tahu kalau istilah kemelekatan merupakan salah satu ajaran umat Buddha. Ajaran tersebut dirangkum dalam sebuah pengertian sederhana menyoal kondisi pikiran yang terikat pada keinginan-keinginan tertentu, bersifat duniawi, dan fana. Kondisi tersebut terkadang memaksa manusia berpikir bahwa implementasinya akan memberikan sensasi kebahagiaan sejati. Jika sudah parah, barangkali dapat menyebabkan seseorang menjadi frustasi akibat keinginan-keinginan yang tidak terwujud itu. Keinginan bisa berwujud relasi, kekayaan, status, bahkan idea tertentu.
Persimpangan sebagaimana telah saya maksud di atas dan beberapa kondisi yang dihadapi cukup rumit beberapa waktu terakhir. Pertama, disisi lain saya menyadari bahwa kemelekatan tidak menjerat saya. Namun, dalam waktu yang bersamaan saya merasa ditinggalkan saat beberapa orang–teman atau keluarga–memutuskan untuk memilih jalan yang dipilih. Mungkin hal tersebut juga hal baru bagi saya. Perasaan-perasaan ditinggalkan juga membuat saya merasa sendirian, kesepian, dan sunyi. Walaupun sebenarnya di sekitar saya ramai saban hari. Misal bertemu banyak orang, mengobrol, berdiskusi soal banyak hal, mulai dari yang remeh-temeh hingga ndakik-ndakik.
Kedua, meski tampak biasa saja dalam keseharian (baca: keadaan yang memaksa begitu), saya mengakui bahwa setiap hari dihantui oleh perasaan-perasaan tersebut. Di jalan, menyetir dini hari sambil lalu memasang muka yang menyedihkan. Di tempat tidur, menatap langit-langit rumah dan melamun setiap malam. Saya tidak tahu dimana lagi perasaan-perasaan itu muncul. Tapi yang pasti, Ia hampir muncul disetiap kegiatan harian saya. Beruntungnya, saya sudah lebih tenang menghadapi serangkaian hidup yang baru saja dilalui itu. Dulu, sebelum menyadari soal kemelekatan, ketika kalut saya bisa dengan mudah berbagi dengan salah satu teman atau bahkan Ibu saya. Hal itu menjadi berbeda sekarang. Saya lebih memilih menahan diri dan berpikir sendirian. berkontemplasi dengan perasaan-perasaan itu. Sampai benar-benar merasakan bagaimana definisi kesepian, sunyi, dan kesendirian. Ini bukan soal memutus relasi ataupun meninggalkan asas keterbukaan. Akan tetapi persoalan cara pandang, kesadaran, dan keberterimaan.
Satu hal yang bisa saya ambil sebagai pembelajaran setelah melalui fase hidup –yang katanya–menjadi dewasa ini. Kemelekatan dalam konteks relasi dengan orang-orang disekitar akan membahayakan jika terus dilakukan. Meski tidak bisa menghindari, paling tidak Ia dapat ditekan dengan jumlah yang seminimal mungkin. Dengan apa kita bisa menekan itu? Kembali pada paragraf awal, kesadaran penuh adalah hal yang bisa dilakukan sebagai bentuk kendali diri. Sadar bahwa perubahan adalah sesuatu yang pasti terjadi sudah paling benar dilakukan. Manusia yang dinamis terus berkembang dan bertransformasi dalam bentuk apapun. Mereka akan tumbuh seiring pengalaman yang dihadapinya dalam keseharian. Paling tidak kita sudah tidak perlu kaget lagi setelah ini, jika harus melihat teman A bisa berubah menjadi Z. Atau melihat siapapun yang berkelindan di sekitarmu. Tidak perlu menyangkal bahwa ada fase semua orang yang hilang akan diganti.

Komentar
Posting Komentar