Langsung ke konten utama

Hujan Malam Hari


Remang abu-abu

Yang berlalu kelabu

Bolehkah yang hilang

tak kurakit kembali? 


Biarkan aku menjadi baru

Biarkan aku mencari jalan pilihan bahagia

Cukupkan, 

Tidak ada yang salah


Kamu hanya perlu mengatakan

paling benar

Paling jelas

Agar aku tak menjadi sungguhan


Sudah lama runyam

Aku sudah hilang

Rapuh terpatahkan

Melihat tak pernah ada kemungkinan

Pemasungan Kenang, Februari 2021


Photo by Nur Andi Ravsanjani Gurma from Pexels

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Merangkai Kembali yang Putus

Setelah sekian purnama tidak merangkai jejak pada platform ini, maka aku kembali dengan wajah baru yang mungkin nampak segar. Berlatih kebugaran mental yang telah lama diobrak-abrik rangkaian rutinitas. Benar juga, ya. Kata Pak Cik Andrea Hirata, rutinitas dapat membunuh kreativitas. Kawan, mungkin catatan kali ini hanya akan berisi curhatan  narsisme manusia yang sedang mengalami sempoyongan akan hidup. Manusia yang baru saja keluar dari goa primitif dan berkelit dengan dunia luar yang bebas. Dan ya, aku akan membayar lunas karena sejak beberapa waktu terakhir situs web pribadi ini mungkin cukup dianaktirikan. Sebenarnya, banyak yang ingin aku ceritakan. Tapi untuk menghindari catatan yang terlalu panjang, maka nantinya jika sempat akan aku pecah menjadi beberapa. Doakan aku sempat dan menyempatkan diri. Jika pada akhirnya tidak sempat, maka aku tidak terlalu berutang janji. Karena aku memang tidak sedang mengucap janji ataupun melingkarkan jari kelingking pada jari kalian satu pe...

Kemelekatan dan Bagaimana Ia Berkelindan

Kalau kamu pendengar musik indie, coba ingat-ingat salah satu rilisan lagu dengan judul yang amat panjang milik Banda Neira. Kiranya Banda Neira pernah melantunkan apa di telingamu? Kalau tidak berhasil mengingatnya, maka saya sudi saja menulis sebagai pembuka tulisan ini. Banda Neira hanya bilang begini: Yang, yang patah tumbuh, yang hilang berganti Yang hancur lebur akan terobati Yang sia-sia akan jadi makna Yang terus berulang suatu saat henti Yang pernah jatuh ‘kan berdiri lagi Kenyataan alamiah yang tidak terelakkan soal datang dan perginya seseorang memang harus disadari dengan penuh. Bijaknya, Ia merupakan siklus kehidupan yang menggambarkan betapa dinamisnya manusia beserta pengalamannya. Sebagai rangsangan atas kesadaran penuh tersebut, kita tidak mungkin menjadi naif dan membiarkan mengambang seolah nurani tidak boleh ikut andil. Beberapa waktu terakhir saya seringkali bertemu persimpangan ketika menyoal relasi dengan beberapa orang. Baik relasi pertemanan, keluarga hingga as...

Yang Beragam: Kita Sebut Manusia

Mengenal manusia satu dengan yang lain memang tidak pernah cukup waktu kita. Tatanan yang kompleks dan dinamis. Sikap dan sifat yang tidak bisa hanya dipandang dari satu sisi. Terkadang... bahkan kita yang menjadi meledak seketika saat menghadapi semua itu. Kehidupan sehari-hari terus memunculkan bentuk sikap dan sifat itu sendiri. Lebih-lebih mengenai keburukan yang akan terus menjadi sorotan. Beruntung, masyarakat menjadi pengendali alamiah sebab kodrat. Mari menganalisa! Pertama, masyarakat adalah komunitas yang terdiri dari berbagai satuan individu (manusia) dan terikat sistem adat maupun tradisi. Manjadi pilihan bagi setiap individu dalam lingkaran sistem untuk mendominasi buruk atau baik. Sebagai pengalaman pribadi, masyarakat tidak bisa kita hadapi dengan sifat apatis. Sifat buruk yang terhujat dan tak terpelihara. Bisa jadi tak bertahan lama jika tampak sifat tersebut. Kedua, pernah dengar ungkapan seperti ini?—keberhasilan teori belum tentu menjamin mutu kegiatan paling nyata ...