Langsung ke konten utama

Dekat yang Asing, Bagaimana?


Sebagian dari kita mungkin pernah merasakan seseorang yg sangat dekat namun menjadi tidak mengerti, seketika asing dan tak memahami. Jika begitu, kecewa akan senantiasa bergirang menyelimuti hati andai saja tidak kita telisik dari berbagai sisi. Tapi memang ada, manusia tak selamanya sama kan? Mari analogikan topik kali ini dalam sebuah segitiga sembarang. Kita letakkan tulisan ditengahnya 'Dia yang Asing'. Setelah itu lihat per bagian sisi masing-masing. Yang kita dapati bisa saja terbagi dalam 3 sisi pandang berbeda.

Sisi pertama yang dapat kita sama-sama lihat, mungkin seseorang itu sedang berada pada kondisi yang tidak baik-baik saja. Begini, mengatasi dirinya sendiri tidak bisa apalagi untuk orang lain. Atau bisa saja kondisi kita yang justru tidak sederhana untuk menjelaskan sebuah keadaan dan peristiwa.

Sisi kedua, perlu dipertanyakan apakah mereka benar-benar yang mengerti kita sebagai teman atau lawan jenis yang istimewa misalnya. Jika tidak, dengan mudah saja kita menebak tidak ada kesungguhan dalam sebuah hubungan. Lain halnya jika hubungan yang kita maksud adalah dengan keluarga, obrolan santai dan mendalam perlu dilakukan untuk menyelesaikan.

Sisi ketiga, ini perihal kebaikan dan cara kita berpikir positif tentang seseorang. Saat ini yang tampak adalah dia yang tidak mengerti bukan berarti akan berlaku untuk selamanya, jika saja kita bisa membicarakan secara baik-baik. Dan setiap individu memang perlu yang namanya introspeksi. Ego adalah hal yang tidak mudah dikendalikan bukan? Nah, mungkin saja hal itu sedang ikut andil untuk menyemarakkan keadaan yang tak stabil itu.

Setelah semuanya dipikirkan baru bisa kita hubungkan sisi mana yang sedang terjadi. Bisa satu, dua, tiga atau kombinasi. Kemudian kita dapat mengetahui koda bagaimana yang perlu dilakukan. Dan yang penting dari semuanya adalah memberi jarak sementara waktu. Jarak bukan berarti harus menjauh atau bahkan pergi. Jarak bisa berupa tidak membicarakan topik yang sama. Berilah waktu untuk diri kita istirahat, jeda dan masa tenang. Ingat! Meninggalkan belum tentu yang dianjurkan untuk segala hal.

Dari tiga sisi pandang diatas, sisi pandang kedua tidak sepenuhnya dianjurkan. Kita perlu melihat konteks terlebih dahulu untuk menghubungkannya.

Catatan:
• Diatas adalah cara pandang penulis. Segitiga sembarang memiliki banyak versi. Kembali kepada diri masing-masing tentang sisi pandang yang mana untuk didahulukan. 
• Tulisan ini untuk keperluan setor tulisan #NulisBarengReina

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kemelekatan dan Bagaimana Ia Berkelindan

Kalau kamu pendengar musik indie, coba ingat-ingat salah satu rilisan lagu dengan judul yang amat panjang milik Banda Neira. Kiranya Banda Neira pernah melantunkan apa di telingamu? Kalau tidak berhasil mengingatnya, maka saya sudi saja menulis sebagai pembuka tulisan ini. Banda Neira hanya bilang begini: Yang, yang patah tumbuh, yang hilang berganti Yang hancur lebur akan terobati Yang sia-sia akan jadi makna Yang terus berulang suatu saat henti Yang pernah jatuh ‘kan berdiri lagi Kenyataan alamiah yang tidak terelakkan soal datang dan perginya seseorang memang harus disadari dengan penuh. Bijaknya, Ia merupakan siklus kehidupan yang menggambarkan betapa dinamisnya manusia beserta pengalamannya. Sebagai rangsangan atas kesadaran penuh tersebut, kita tidak mungkin menjadi naif dan membiarkan mengambang seolah nurani tidak boleh ikut andil. Beberapa waktu terakhir saya seringkali bertemu persimpangan ketika menyoal relasi dengan beberapa orang. Baik relasi pertemanan, keluarga hingga as...

Merangkai Kembali yang Putus

Setelah sekian purnama tidak merangkai jejak pada platform ini, maka aku kembali dengan wajah baru yang mungkin nampak segar. Berlatih kebugaran mental yang telah lama diobrak-abrik rangkaian rutinitas. Benar juga, ya. Kata Pak Cik Andrea Hirata, rutinitas dapat membunuh kreativitas. Kawan, mungkin catatan kali ini hanya akan berisi curhatan  narsisme manusia yang sedang mengalami sempoyongan akan hidup. Manusia yang baru saja keluar dari goa primitif dan berkelit dengan dunia luar yang bebas. Dan ya, aku akan membayar lunas karena sejak beberapa waktu terakhir situs web pribadi ini mungkin cukup dianaktirikan. Sebenarnya, banyak yang ingin aku ceritakan. Tapi untuk menghindari catatan yang terlalu panjang, maka nantinya jika sempat akan aku pecah menjadi beberapa. Doakan aku sempat dan menyempatkan diri. Jika pada akhirnya tidak sempat, maka aku tidak terlalu berutang janji. Karena aku memang tidak sedang mengucap janji ataupun melingkarkan jari kelingking pada jari kalian satu pe...

Yang Beragam: Kita Sebut Manusia

Mengenal manusia satu dengan yang lain memang tidak pernah cukup waktu kita. Tatanan yang kompleks dan dinamis. Sikap dan sifat yang tidak bisa hanya dipandang dari satu sisi. Terkadang... bahkan kita yang menjadi meledak seketika saat menghadapi semua itu. Kehidupan sehari-hari terus memunculkan bentuk sikap dan sifat itu sendiri. Lebih-lebih mengenai keburukan yang akan terus menjadi sorotan. Beruntung, masyarakat menjadi pengendali alamiah sebab kodrat. Mari menganalisa! Pertama, masyarakat adalah komunitas yang terdiri dari berbagai satuan individu (manusia) dan terikat sistem adat maupun tradisi. Manjadi pilihan bagi setiap individu dalam lingkaran sistem untuk mendominasi buruk atau baik. Sebagai pengalaman pribadi, masyarakat tidak bisa kita hadapi dengan sifat apatis. Sifat buruk yang terhujat dan tak terpelihara. Bisa jadi tak bertahan lama jika tampak sifat tersebut. Kedua, pernah dengar ungkapan seperti ini?—keberhasilan teori belum tentu menjamin mutu kegiatan paling nyata ...