Langsung ke konten utama

Rasa-rasa, Bukan Puisi Cinta


Aku butuh rasa-rasa untuk bernostalgia

Menatap meja yang usang

atau manatap kau yang duduk

dibarisan paling belakang

Itu rasa pertamaku

Untuk berlanjut yang kedua

Ketika menemuimu 

Topiknya masih sama

Kamu juga

Masih sama arogannya

Bisa gangguan jiwa tubuhku

Habis syarafnya membentuk hiperbola

Kaget rohaniah ini

Melihat kita masih dijalan yang sama

Tunggu. Sekali lagi tunggu. 

Jangan salah paham kali ini

Katanya sudah berdewasa 

Mungkin masa ini untuk rasa-rasa yang berbeda

Dan ini kau yang terselip di catatan lapuk

Kuharap berubah kau manusia angkuh! 

Kerangkeng Nostalgia, Juli 2021


Photo by Suzy Hazelwood From Pexels

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Yang Beragam: Kita Sebut Manusia

Mengenal manusia satu dengan yang lain memang tidak pernah cukup waktu kita. Tatanan yang kompleks dan dinamis. Sikap dan sifat yang tidak bisa hanya dipandang dari satu sisi. Terkadang... bahkan kita yang menjadi meledak seketika saat menghadapi semua itu. Kehidupan sehari-hari terus memunculkan bentuk sikap dan sifat itu sendiri. Lebih-lebih mengenai keburukan yang akan terus menjadi sorotan. Beruntung, masyarakat menjadi pengendali alamiah sebab kodrat. Mari menganalisa! Pertama, masyarakat adalah komunitas yang terdiri dari berbagai satuan individu (manusia) dan terikat sistem adat maupun tradisi. Manjadi pilihan bagi setiap individu dalam lingkaran sistem untuk mendominasi buruk atau baik. Sebagai pengalaman pribadi, masyarakat tidak bisa kita hadapi dengan sifat apatis. Sifat buruk yang terhujat dan tak terpelihara. Bisa jadi tak bertahan lama jika tampak sifat tersebut. Kedua, pernah dengar ungkapan seperti ini?—keberhasilan teori belum tentu menjamin mutu kegiatan paling nyata ...

Berhingga

  ‘Akhir’ aku ngeri mendengarnya Seperti terancam nyawa Gelap pekat tak terkira Hingga tak menampak arah Kiranya aku mampu? Bahkan retak satu persatu Lemah menyertaiku Aku terpasung   Cahaya juga enggan kentara Seperti ingin menyerah saja Pertanyaan terus berkerumun Tak satupun jawabannya menuntun   Aku diam, Masih dalam temaram Nyali tersekat, Dalam lingkaran menakutkan tak beradab Ruang Gelap, Desember 2020 Photo by  Cottonbro  from   Pexels

Cara Pandang

Apa yang kalian pikirkan ketika melihat seorang perempuan dengan perilaku urakan, ekspresif dan kalau bahasa gaulnya adalah bar-bar? Semuanya seolah jauh dari standarisasi perempuan yang harusnya pendiam, lemah lembut serta kemayu. Benar atau salahkah itu? Baiklah, mari sama-sama kesampingkan salah benar namun analisa dari latar belakang dan tujuannya.                 Berdasarkan pengalaman, jika kita melihat hal-hal demikian akan tampak lebih baik jika jangan melabelkan salah total terlebih dahulu. Apakah yang perlu dilakukan? Baiknya lakukan analisa dulu. Mungkin kesannya terlalu kaku dan serius. Tapi mau bagaimana lagi, salah satu cara kita belajar mengenai kehidupan adalah belajar kepada sesama dan saling memanusiakan. Bukankah begitu kawan? Nurani memang sesuatu yang hanya bisa dirasa dengan kelembutan tanpa amarah, halus sekali dan perlu dilakukan secara mendalam. Nah, ini sebagai modal bagaimana kita bisa...