Mengenai syukur, aku lebih suka mengibaratkannya seperti udara. Tak terlihat juga tak bisa digenggam tapi ia bisa dirasakan. Begitu besar manfaatnya bukan? Menjadi perantara kehidupan bagi manusia. Membantu tumbuhan sebagai zat yang dihasilkan pada proses fotosintesis. Atau membantu hewan atas keberlangsungan hidupnya. Ah... Sepertinya aku tampak sangat saintis menjelaskan ini semua. Sesungguhnya tidak begitu kawan. Mari sama-sama mempermudah gambaran masing-masing.
Pada dasarnya, aku sungguh takut berbicara ‘Aku’. Kadang khawatir untuk menceritakannya. Namun, tampaknya kali ini aku harus menguliti satu persatu kehidupan dan mencari keterkaitannya dengan sesuatu yang perlu disyukuri. Sebelum kalian membaca lebih lanjut, aku harap kalian menyadarinya bahwa tidak perlu ada yang dicemburui dari kisah ini. Aku harap kita adalah manusia yang menyadari bahwa hidup juga tidak selalu tentang persamaan, sama seperti matematika, juga terdapat pertidaksamaan.
Untuk menuliskan 3 hal yang patut disyukuri, mungkin belum pernah aku lakukan sebelumnya. Semua itu hanya berbatas penyadaran sambil ku bisikkan kepada teman-teman saat hendak mengadakan perkumpulan. Aku jarang untuk mengatakan lewat tulisan hal semacam ini. Namun, ada hal yang begitu spesial hingga aku harus menyadari bahwa tulisan ini perlu dibagi. Bukan maksud hati untuk dicemburui seperti yang dikata pada paragraf dua.
Aku hanya ingin kalian membaca dan bisa merefleksi setelahnya. Ini aku:
1. Kepercayaan yang Tak Terkira Walaupun Aku Sebagai Anak Wanita.
Perempuan di desa harus selalu bertentangan jika ingin maju. Kultur yang tak mendukung serta budaya yang memang tak bisa mengikuti zaman, oh bukan kawan, ini bukan budaya dalam artian sempit. Mari kita pahami bersama. Ibuku tak berpendidikan tinggi, menikah di usia muda dan berjuang sebagai single parent sejak umurku 4 tahun. Dari background yang seperti itu nyatanya bukan serta merta dia melarangku melangkah lebih, bergerak maju dan melangkah menuju masa depan.
Sejak aku berkeinginan aktif dimana-mana, sekolah maupun luar sekolah. Ibu selalu memberiku ruang, mendukung ku untuk berjuang. Bukan maksud aku adalah anak yang dibiarkan, bukan! Menurut terkaan ku kepercayaan seutuhnya yang aku dapat karena salah satu dari terlaksananya asas keterbukaan. Ya begitu, aku seperti pencerita ulung yang memiliki hal menarik tiap pulang sekolah. Aku bertukar cerita keseharian ku begitu pula Ibuku. Dia teman baik ku, sekarang , sampai masa yang akan datang hingga selamanya.
Kalau ditanya siapa role model dan idola yang paling kusukai, sudah selayaknya ku menjawab ibuku.
Aku sering bertanya kepadaku sendiri, bagaimana dia menjalani hidup? Apakah dia tidak pernah merasakan sakit? Sakitnya seolah tak membekas. Cepat usai. Aku bisa mengibaratkan dia begitu kuat bahkan dalam tekanan. Mungkin karena baju baja yang Ia bangun bertahun lamanya.
Walau perdebatan yang selalu terjadi, mungkin itu semua telah menjadi hal yang biasa. Jarang dia memuji. Walau tidak benar-benar aku temukan bagaimana sosok lelaki setelah lebih dari 10 dekade kita ditinggalkan. Ibu seperti seorang yang sempurna sosoknya, menjadi ibu dan bapak diwaktu yang bersamaan.
Dan banyak lagi hal lain yang mungkin tak cukup ku sertakan dalam ruang yang terbatas ini.
2. Aku Hidup Mendalam Bersama Teman-temanku.
Kalian yang mungkin menemui postingan di instagram ku. Aku pernah mengibaratkan pertemanan ku seperti labirin yang berlapis.
Semesta dengan baik hati menyajikan berbagai pelajaran hidup yang berarti. Hidup memberi ku ruang untuk mempelajari lebih banyak manusia. Menemui 4 manusia dengan iming-iming awal banyak persamaan. Jangan salah paham, mungkin ini diksi yang cukup multitafsir terhadap kalian.
Sungguh! Mereka seolah kunci untuk labirin berlapis lainnya. Aku memang perlu menjadi pelari. Menjadi gila mencari arti akan hidup yang banyak manfaatnya.
3. Buku Ku Menyetor Nutrisi Lebih.
Beberapa bulan terakhir, setelah memutuskan untuk membangun circle social media yang 70% hanya seputar buku, membuatku lebih banyak jatuh cinta. Bukan hanya bukunya tapi kepada kegiatannya. Setahun sampai dua tahun lalu, aku hanya sekedar mencintai buku, bukan kegiatannya yang tak pemilih itu. Aku menjadi pemilih dalam membaca. Bacaan yang bergengsi hanya dimiliki penulis yang mapan pula. Maaf teman, aku sangat anarkis waktu itu.
Setelah berjalan beberapa waktu, perspektif otak yang menyatakan itu mulai bertransformasi. Lebih baik tentunya.
Tahun ini, aku menjadi menghargai lebih banyak buku. Aku mulai rugi jika tidak membaca. Tiba-tiba saja bergemuruh takut daya ingatku menurun.
Buku membuatku kepayang dan gila lebih daripada sensasi mencintai manusia.
Itulah tiga hal yang sejujurnya tak percaya diri ku sajikan. Poin nomor 1 hari ini begitu istimewa untuk sahabat terbaik ku itu, dia Ibuku, duniaku. Dan penggembira yang tak terkira.
Dari 'Aku' untuk kalian.
Fatma.
Nb: writing prompt 3 #NulisBarengReina yang tak cepat ku selesaikan akhirnya menemukan titik terang.

Komentar
Posting Komentar