Langsung ke konten utama

Postingan

Kemelekatan dan Bagaimana Ia Berkelindan

Kalau kamu pendengar musik indie, coba ingat-ingat salah satu rilisan lagu dengan judul yang amat panjang milik Banda Neira. Kiranya Banda Neira pernah melantunkan apa di telingamu? Kalau tidak berhasil mengingatnya, maka saya sudi saja menulis sebagai pembuka tulisan ini. Banda Neira hanya bilang begini: Yang, yang patah tumbuh, yang hilang berganti Yang hancur lebur akan terobati Yang sia-sia akan jadi makna Yang terus berulang suatu saat henti Yang pernah jatuh ‘kan berdiri lagi Kenyataan alamiah yang tidak terelakkan soal datang dan perginya seseorang memang harus disadari dengan penuh. Bijaknya, Ia merupakan siklus kehidupan yang menggambarkan betapa dinamisnya manusia beserta pengalamannya. Sebagai rangsangan atas kesadaran penuh tersebut, kita tidak mungkin menjadi naif dan membiarkan mengambang seolah nurani tidak boleh ikut andil. Beberapa waktu terakhir saya seringkali bertemu persimpangan ketika menyoal relasi dengan beberapa orang. Baik relasi pertemanan, keluarga hingga as...
Postingan terbaru

Merangkai Kembali yang Putus

Setelah sekian purnama tidak merangkai jejak pada platform ini, maka aku kembali dengan wajah baru yang mungkin nampak segar. Berlatih kebugaran mental yang telah lama diobrak-abrik rangkaian rutinitas. Benar juga, ya. Kata Pak Cik Andrea Hirata, rutinitas dapat membunuh kreativitas. Kawan, mungkin catatan kali ini hanya akan berisi curhatan  narsisme manusia yang sedang mengalami sempoyongan akan hidup. Manusia yang baru saja keluar dari goa primitif dan berkelit dengan dunia luar yang bebas. Dan ya, aku akan membayar lunas karena sejak beberapa waktu terakhir situs web pribadi ini mungkin cukup dianaktirikan. Sebenarnya, banyak yang ingin aku ceritakan. Tapi untuk menghindari catatan yang terlalu panjang, maka nantinya jika sempat akan aku pecah menjadi beberapa. Doakan aku sempat dan menyempatkan diri. Jika pada akhirnya tidak sempat, maka aku tidak terlalu berutang janji. Karena aku memang tidak sedang mengucap janji ataupun melingkarkan jari kelingking pada jari kalian satu pe...

Bukan Sajak, Bukan Opini, Ini Curahan Hati

Seseorang pernah berkata didekat ku “Hati-hati ya, kamu kan suka membaca buku”. Sejujurnya, ini pernyataan paling ekstrem yang pernah kutemui tujuh bulan terakhir. Bagaimana mungkin aku harus begitu waspada hanya karena kesukaan yang digeluti. Konteks yang harus ku hati-hati tak lebih hanya berkisar ketakutan akan perbedaan aliran dalam keagamaan, katanya. Sedikit membingungkan seketika. Rasanya aku ingin berhenti saat itu juga membagikan aktivitas membaca ku lewat media sosial. Kebingunganku mulai menjadi-jadi. Pertanyaan benar-salah juga semakin menghantuiku pasca kejadian itu. Aku terus memahami, apa kegiatanku merupakan bentuk kesalahan atau persepsi tersebut yang terlalu kolot. Jika konteksnya hanya karena sebuah aliran keagamaan, sungguh aku sangat menyayangkan. Apalagi, bagiku agama dan perintilannya adalah sebuah hal yang sangat privat. Maksudku begini. tidak mungkin kan seseorang harus mendapat cap tidak beriman atau tidak ‘religius’ hanya karena dia tidak pernah terlihat memb...

'Syukur' Semoga Kalian Tak Tersinggung

Mengenai syukur, aku lebih suka mengibaratkannya seperti udara. Tak terlihat juga tak bisa digenggam tapi ia bisa dirasakan. Begitu besar manfaatnya bukan? Menjadi perantara kehidupan bagi manusia. Membantu tumbuhan sebagai zat yang dihasilkan pada proses fotosintesis. Atau membantu hewan atas keberlangsungan hidupnya. Ah... Sepertinya aku tampak sangat saintis menjelaskan ini semua. Sesungguhnya tidak begitu kawan. Mari sama-sama mempermudah gambaran masing-masing. Pada dasarnya, aku sungguh takut berbicara ‘Aku’. Kadang khawatir untuk menceritakannya. Namun, tampaknya kali ini aku harus menguliti satu persatu kehidupan dan mencari keterkaitannya dengan sesuatu yang perlu disyukuri. Sebelum kalian membaca lebih lanjut, aku harap kalian menyadarinya bahwa tidak perlu ada yang dicemburui dari kisah ini. Aku harap kita adalah manusia yang menyadari bahwa hidup juga tidak selalu tentang persamaan, sama seperti matematika, juga terdapat pertidaksamaan. Untuk menuliskan 3 hal yang patut dis...

Rasa-rasa, Bukan Puisi Cinta

Aku butuh rasa-rasa untuk bernostalgia Menatap meja yang usang atau manatap kau yang duduk dibarisan paling belakang Itu rasa pertamaku Untuk berlanjut yang kedua Ketika menemuimu  Topiknya masih sama Kamu juga Masih sama arogannya Bisa gangguan jiwa tubuhku Habis syarafnya membentuk hiperbola Kaget rohaniah ini Melihat kita masih dijalan yang sama Tunggu. Sekali lagi tunggu.  Jangan salah paham kali ini Katanya sudah berdewasa  Mungkin masa ini untuk rasa-rasa yang berbeda Dan ini kau yang terselip di catatan lapuk Kuharap berubah kau manusia angkuh!  Kerangkeng Nostalgia,   Juli 2021 Photo by  Suzy Hazelwood  From  Pexels

Dekat yang Asing, Bagaimana?

Sebagian dari kita mungkin pernah merasakan seseorang yg sangat dekat namun menjadi tidak mengerti, seketika asing dan tak memahami. Jika begitu, kecewa akan senantiasa bergirang menyelimuti hati andai saja tidak kita telisik dari berbagai sisi. Tapi memang ada, manusia tak selamanya sama kan? Mari analogikan topik kali ini dalam sebuah segitiga sembarang. Kita letakkan tulisan ditengahnya 'Dia yang Asing'. Setelah itu lihat per bagian sisi masing-masing. Yang kita dapati bisa saja terbagi dalam 3 sisi pandang berbeda. Sisi pertama yang dapat kita sama-sama lihat, mungkin seseorang itu sedang berada pada kondisi yang tidak baik-baik saja. Begini, mengatasi dirinya sendiri tidak bisa apalagi untuk orang lain. Atau bisa saja kondisi kita yang justru tidak sederhana untuk menjelaskan sebuah keadaan dan peristiwa. Sisi kedua, perlu dipertanyakan apakah mereka benar-benar yang mengerti kita sebagai teman atau lawan jenis yang istimewa misalnya. Jika tidak, dengan mudah saja kita men...

Dalam Kuali

Terhitung 5 hari Bukannya aku hampir membusuk dalam kuali kesedihan Seram dalam persemayaman Ahh!  Kata siapa ini perlu?  Mungkin aku hanya perlu berjalan di kotak keramik satu persatu Atau paving halaman depan sekolah Kiranya jika aku harus menunggui Harusnya bukan begitu Coba sesendok air saja Ketika tak tahan Bisa saja bau amis menguar Bukan darah Itu besi, yang malamnya disiram gerimis  Aku egois, tak mau menangis Airnya tertahan di pelupuk mataku yg hitam Ruang Pengap Ujian, Maret 2021 Photo from  Pixabay